Asa Terpatri, Karya Berarti: Ketika Pemuda Rokan Hilir Mengubah Ragu Menjadi Mahir
BHARABAS MEDIA, BENGKALIS – Ada masa ketika masa depan terasa seperti hamparan jalan berkabut. Arah memang terlihat, tetapi langkah kerap tertahan oleh keraguan. Begitulah yang pernah dirasakan Muhammad Khalyaki. Di usianya yang baru 20 tahun, pemuda asal Kabupaten Rokan Hilir ini pernah memandang masa depan dengan kecemasan, sembari mempertanyakan kemampuan dirinya sendiri.
Dunia kerja seolah menjadi ruang yang jauh untuk dijangkau. Di tengah tuntutan industri yang semakin membutuhkan tenaga terampil dan kompeten, Khalyaki menyadari bahwa kemauan saja tidak cukup. Ada keterampilan yang harus diasah, ada pengetahuan yang perlu diperdalam, dan ada pengakuan kompetensi yang mesti diperjuangkan.
“Dulu saya sempat merasa khawatir melihat masa depan dan hanya bisa memandang sebelah mata kemampuan diri sendiri,” kenangnya.
Kalimat itu menyimpan kegelisahan yang mungkin juga dirasakan banyak anak muda di daerah. Mereka memiliki tenaga, kemauan, bahkan mimpi yang besar. Namun, kesempatan untuk mengasah kemampuan melalui pelatihan berkualitas dan bersertifikat tidak selalu terbuka lebar.
Bagi Khalyaki, perubahan tidak datang dalam semalam. Ia justru bermula dari sebuah kesempatan yang memberinya ruang untuk belajar dan membuktikan diri.
Kesempatan itu bernama Asa Karya, Asah Skill Hidup Berkarya, program pemberdayaan masyarakat atau Community Involvement and Development (CID) yang digagas PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).
Selama 30 hari, Khalyaki bersama 29 pemuda lainnya mengikuti pelatihan intensif pengelasan di Politeknik Negeri Bengkalis. Di sana, mereka tidak sekadar belajar mengenal peralatan dan teknik pengelasan. Mereka juga menjalani proses panjang untuk membangun ketekunan, kedisiplinan, ketelitian, serta keberanian menghadapi tantangan.
Percikan api dari proses pengelasan seolah menjadi metafora bagi perjalanan mereka. Ada panas yang harus ditahan, ada proses yang harus dilalui, dan ada hasil yang tidak mungkin diperoleh tanpa kesungguhan.
Hari demi hari, keraguan perlahan berganti keyakinan. Sesuatu yang semula terasa asing mulai dapat dikuasai. Keterampilan yang sebelumnya hanya menjadi bayangan kini menjelma kemampuan nyata.
“Berkat pelatihan 30 hari di Program Asa Karya, kini saya tidak hanya mengantongi sertifikat BNSP 2F/3F, tetapi juga siap bergabung mengembangkan usaha teman saya,” ujar Khalyaki.
Bagi sebagian orang, selembar sertifikat mungkin hanya menjadi dokumen pelengkap untuk melamar pekerjaan. Namun, bagi Khalyaki, sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) itu memiliki makna lebih dalam. Ia menjadi tanda bahwa dirinya telah melewati proses belajar, mengatasi keraguan, dan menemukan kemampuan yang selama ini belum sepenuhnya ia percayai.
Lebih dari itu, sertifikat tersebut menjadi pintu menuju kesempatan baru.
Dari Ruang Pelatihan Menuju Ruang Penghidupan
Kisah Khalyaki bukan cerita yang berdiri sendiri. Di baliknya terdapat persoalan yang lebih luas tentang masa depan tenaga kerja lokal. Kabupaten Rokan Hilir memiliki generasi muda dengan potensi besar, tetapi potensi itu membutuhkan ruang tumbuh agar dapat bertemu dengan kebutuhan dunia industri.
Persoalannya bukan semata-mata ada atau tidaknya lapangan pekerjaan. Kesesuaian antara keterampilan tenaga kerja dan kebutuhan industri juga menjadi bagian penting yang menentukan masa depan mereka.
PHR berupaya menjawab tantangan tersebut dengan menggandeng Politeknik Negeri Bengkalis dan Pemerintah Daerah. Sebanyak 30 pemuda dari wilayah Ring 1 dan 10 kecamatan di Rokan Hilir mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan vokasi pengelasan.
Program ini tidak berhenti pada kegiatan belajar di ruang pelatihan. Para peserta menjalani evaluasi kompetensi hingga mengikuti sertifikasi profesi. Bahkan, dukungan peralatan turut disiapkan agar lulusan memiliki modal awal untuk merintis usaha pengelasan di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Hasilnya, seluruh 30 peserta dinyatakan lulus dan memperoleh sertifikat kompetensi pengelasan 2F/3F dari BNSP. Capaian kelulusan 100 persen ini menjadi penanda keberhasilan proses pembinaan yang dijalani bersama.
Di sinilah Asa Karya menemukan maknanya. Keterampilan tidak hanya dipersiapkan sebagai bekal mencari pekerjaan, tetapi juga sebagai jalan untuk menciptakan pekerjaan.
Para lulusan kini memiliki pilihan yang lebih terbuka. Mereka dapat menapaki dunia kerja profesional, bergabung dengan sektor industri, ataupun membangun usaha mandiri dengan memanfaatkan kemampuan yang telah diperoleh.
Bagi anak muda di daerah, kesempatan semacam ini bukan perkara kecil. Sebab, ketika keterampilan tumbuh dan kepercayaan diri menguat, batas-batas yang sebelumnya terasa sulit ditembus perlahan mulai terbuka.
Merayakan keterampilan, menumbuhkan keberanian
Semangat tersebut mengemuka dalam kegiatan Graduation and Business Activation Program Asa Karya yang berlangsung di Politeknik Negeri Bengkalis, Jumat (23/10/2026).
Kegiatan diawali dengan Sharing & Upskilling Session bertajuk “Next Gen Energy Pioneers: Leveling Up Your Skills for Career in Oil & Gas Industry”.
Peserta dan mahasiswa mendapatkan wawasan mengenai peluang karier di sektor minyak dan gas bumi, budaya Health, Safety, Security, and Environment (HSSE), serta pentingnya profesionalisme dalam menghadapi dunia industri.
Bekal tersebut menjadi pelengkap bagi keterampilan teknis yang telah mereka pelajari. Sebab, memasuki dunia kerja bukan hanya tentang mampu mengerjakan sesuatu, melainkan juga memahami standar keselamatan, tanggung jawab, kedisiplinan, dan etika profesional.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Rokan Hilir, M. Nurhidayat, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program tersebut.
“Program Asa Karya, mulai dari pelatihan vokasi pengelasan 2F/3F bersertifikasi BNSP hingga peluang kewirausahaan, telah memberikan ruang tumbuh yang sangat berharga bagi pemuda-pemudi lokal. Kami berterima kasih kepada PHR Zona Rokan atas komitmen dan kontribusinya yang konsisten,” ujarnya.
Apresiasi itu sekaligus menegaskan bahwa pemberdayaan generasi muda membutuhkan kerja bersama. Dunia usaha, lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan sumber daya manusia yang terampil dan mandiri.
Melalui program CID, PHR terus mendorong peningkatan kapasitas masyarakat di sekitar wilayah operasinya. Kolaborasi dengan Politeknik Negeri Bengkalis, Pemerintah Daerah, serta berbagai pemangku kepentingan menjadi bagian dari upaya memperkuat keterampilan sekaligus membuka peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ketika asa menemukan jalannya
Bagi Muhammad Khalyaki, perjalanan 30 hari itu mungkin telah berakhir. Namun, sesungguhnya perjalanan yang lebih panjang baru saja dimulai.
Di hadapannya terbentang kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, membangun usaha, dan membuktikan bahwa anak muda dari daerah juga mampu mengambil bagian dalam dunia industri.
Kini, ia tidak lagi sekadar memandang masa depan dari kejauhan. Ada bekal yang telah digenggam, ada kemampuan yang telah diakui, dan ada keberanian yang tumbuh dari proses panjang pembelajaran.
Kisahnya mengingatkan bahwa masa depan tidak selalu ditentukan oleh dari mana seseorang berasal, tetapi juga oleh kesempatan untuk bertumbuh dan keberanian untuk mengambil langkah.
Sebab, asa tidak cukup hanya disimpan dalam angan-angan. Ia perlu ditempa, diasah, dan diwujudkan melalui karya.
Dan bagi Khalyaki, percikan api dari sebuah proses pengelasan telah menyalakan sesuatu yang jauh lebih besar: keyakinan bahwa dirinya mampu berkarya dan menjemput masa depan.
(rls/pri)
Komentar Anda :