BHARABAS MEDIA, PEKANBARU – Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Pendidikan (Disdik) terus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang bersih, sehat, hijau dan nyaman. Salah satu langkah yang dilakukan yakni membiasakan kegiatan gotong royong secara rutin di seluruh SMA, SMK dan SLB negeri maupun swasta di Riau.
Melalui gerakan tersebut, kegiatan menjaga kebersihan tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas sekolah, tetapi menjadi budaya bersama yang melibatkan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan hingga peserta didik.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Erisman Yahya, mengatakan kegiatan gotong royong dilaksanakan minimal satu kali setiap bulan. Namun, semangat utama gerakan tersebut adalah menumbuhkan kesadaran warga sekolah agar peduli terhadap kebersihan dan kenyamanan lingkungan setiap hari.
“Menjadikan kegiatan gotong royong sebagai bagian dari budaya dan pembiasaan positif di lingkungan sekolah, dengan tetap memperhatikan keselamatan dan kesehatan peserta didik,” kata Erisman, Jumat (25/9/2026).
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Dinas Pendidikan Provinsi Riau Nomor 000/7122/Disdik/2026 tertanggal 24 September 2026 tentang Gerakan Gotong Royong di Satuan Pendidikan.
Erisman menjelaskan, gotong royong dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana yang langsung menyentuh lingkungan sekolah. Mulai dari membersihkan ruang kelas, halaman, saluran air hingga fasilitas umum yang digunakan warga sekolah.
Sekolah juga didorong memperkuat penghijauan melalui penataan dan pemeliharaan taman, penanaman pohon serta perawatan sederhana terhadap sarana dan prasarana pendidikan.
Menurutnya, pembiasaan tersebut penting karena sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang untuk menanamkan karakter, kepedulian dan rasa tanggung jawab kepada peserta didik.
Dengan lingkungan yang terawat, proses belajar mengajar diharapkan semakin nyaman sekaligus membangun kebiasaan siswa untuk menjaga kebersihan sejak dini.
Tidak berhenti pada kegiatan gotong royong, Disdik Riau juga mendorong satuan pendidikan mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Sekolah diminta menyediakan tempat sampah berdasarkan jenisnya, seperti sampah organik, anorganik serta sampah yang memerlukan penanganan khusus.
Edukasi mengenai pengelolaan sampah juga diperkuat. Siswa diarahkan untuk membiasakan memilah sampah, menggunakan kembali barang yang masih dapat dimanfaatkan serta mendaur ulang sampah yang memiliki nilai guna.
Langkah tersebut diharapkan membuat kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya muncul ketika kegiatan gotong royong berlangsung, tetapi menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari di sekolah.
Dalam pelaksanaannya, pengelolaan sampah tetap disesuaikan dengan ketentuan dan kebijakan yang berlaku di masing-masing kabupaten dan kota.
Kepala sekolah memiliki peran penting dalam memastikan gerakan tersebut berjalan secara konsisten. Mereka diminta melakukan pembinaan, pengawasan dan evaluasi terhadap kegiatan kebersihan serta pengelolaan sampah di lingkungan sekolah.
Setiap kegiatan juga didorong untuk didokumentasikan sebagai bagian dari pelaksanaan budaya peduli lingkungan di satuan pendidikan.
Disdik Riau selanjutnya akan melakukan pemantauan dan evaluasi untuk melihat pelaksanaan gerakan tersebut di sekolah-sekolah.
“Dinas Pendidikan Provinsi Riau akan melakukan monitoring dan evaluasi terkait kegiatan gotong royong dan pengelolaan sampah di satuan pendidikan,” tegas Erisman.
Gerakan ini sekaligus menjadi bagian dari tindak lanjut Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pengelolaan Sampah serta berbagai aturan pengelolaan sampah yang berlaku di kabupaten dan kota.
Erisman berharap keterlibatan seluruh warga sekolah dapat membuat budaya bersih dan peduli lingkungan tumbuh secara berkelanjutan.
“Melalui gerakan tersebut, kami berharap sekolah di Riau dapat membangun kebiasaan menjaga kebersihan secara berkelanjutan sehingga lingkungan belajar tetap bersih, sehat, hijau dan nyaman bagi seluruh warga sekolah,” katanya. (rls/pri)
Komentar Anda :