Oleh: Prima Ermad -- Praktisi Penyiaran
BHARABAS MEDIA, PEKANBARU -- Membaca Opini berjudul "Radio Perlahan Jadi Kenangan" yang ditulis seorang teman yang terbit di salahsatu media online memang membuat darah menjadi mendidih, apalagi awak termasuk orang yang bergolongan darah "R" Yang tak ada stoknya di bank darah PMI.
Bagaimana tidak, awak dimintanya "realistis, sajalah, Jangan kebanyakan halu, Nanti bisa gila beneran", terpacu hal itu terpaksa juga awak tulis tulisan ini, walaupun sebenarnya spesialiasi awak adalah mengolah skrip menjadi suara, dan dipancar luaskan untuk didengar khalayak ramai melalui frekwensi yang dipinjamkan ke bos awak selaku pengelolah Radio.
Memang di tengah derasnya arus digitalisasi, ketika orang bisa mendapatkan berita melalui media sosial, menonton video melalui berbagai platform, dan mendengarkan musik melalui layanan streaming, satu pertanyaan yang kerap muncul adalah, "apakah radio masih ada"? (Mungkin ini juga yang terpikir oleh teman awak tu)
Namun Jawabannya sederhana: radio masih ada. Bahkan, radio tidak sekadar bertahan. Radio terus mencari cara untuk beradaptasi dengan zaman.
Radio memang tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi dan hiburan seperti beberapa dekade lalu. Namun, justru di tengah banjir informasi, radio memiliki ruang yang tetap penting: menjadi media yang dekat, akrab, dan manusiawi.
Radio hadir menemani orang dalam perjalanan menuju tempat kerja, saat membuka usaha, berada di rumah, atau ketika menikmati pagi dan malam. Suara penyiar yang menyapa pendengar menciptakan hubungan yang berbeda dengan media digital. Ada unsur kedekatan yang tidak selalu bisa digantikan oleh layar.
Hampir setiap hari Pak Hendrik tak bosan bosannya menyampaikan keluhannya, mulai dari jalan yang berlobang menuju kediamannya sampai sampah yang menumpuk karena berhari hari tidak juga diangkat petugas LPS, selalu disampaiknnya kepada penyiar Radio Bharabas, hingga penyiar yang bertugas hapal betul dengan suara bapak ini walaupun belum pernah bersua. Atau teman teman penyiar di radio Aditya FM terdengar begitu akrab dengan seorang pendengar yang menyampaikan keluhannya untuk menghadapi teman yang toxid yang sudah menggangu hidupnya, ini adalah bukti bukti bahwa Radio benar benar menjadi teman bagi masyarakat kota Pekanbaru saat ini. Apalagi bila hujan turun dengan deras disore saat jam pulang kantor, maka itu akan menjadi tambahan bagi gatekeeper RRI Pekanbaru untuk menjawab jalan mana yang bebas banjir dan dapat dilalui dengan lancar tanpa macet. Dan masih banyak lagi kerja nyata yang dilakukan teman teman Radio lainnya di Pekanbaru. Meskipun tak bisa dipungkiri memang ada penurunan jumlah pendengar saat ini.
Memang di era media sosial, informasi datang begitu cepat. Namun kecepatan tidak selalu berarti kebenaran. Berita dapat beredar dalam hitungan detik, tetapi verifikasi membutuhkan waktu dan tanggung jawab.
Di sinilah radio memiliki tantangan sekaligus peluang.
Radio harus mampu menjadi ruang informasi yang terpercaya. Bukan sekadar mengejar siapa yang paling cepat menyampaikan berita, tetapi siapa yang paling mampu memberikan informasi yang benar, berimbang, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Radio juga harus berani keluar dari paradigma lama. Radio hari ini bukan hanya suara yang dipancarkan melalui frekuensi FM. Radio dapat hadir melalui streaming, podcast, media sosial, video pendek, hingga berbagai platform digital.
Dengan kata lain, yang berubah adalah cara radio menjangkau pendengar. Bukan eksistensinya.
Radio juga mempunyai keunggulan yang sangat penting: lokalitas.
Ketika platform digital menghadirkan informasi dari seluruh dunia, radio lokal justru dapat berbicara tentang persoalan yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Tentang jalan yang rusak, banjir, harga kebutuhan pokok, UMKM, budaya, pendidikan, lingkungan, hingga cerita-cerita masyarakat yang mungkin tidak mendapatkan tempat di media nasional.
Radio lokal memiliki kemampuan untuk mengatakan kepada pendengarnya: “Kami berada di sini, bersama Anda.”
Karena itu, tantangan radio ke depan bukan sekadar mempertahankan frekuensi atau jumlah pendengar. Tantangannya adalah mempertahankan relevansi.
Radio harus memahami generasi baru. Pendengar muda mungkin tidak selalu duduk di depan radio pada waktu tertentu. Mereka bisa mendengarkan melalui telepon genggam, streaming, podcast atau potongan konten di media sosial.
Maka radio harus hadir di tempat pendengarnya berada.
Namun ada satu hal yang tidak boleh hilang dalam proses transformasi tersebut: karakter radio itu sendiri.
Suara manusia, interaksi dengan pendengar, kemampuan membangun suasana, kedekatan dengan komunitas, dan kepedulian terhadap persoalan lokal adalah kekuatan yang harus dipertahankan.
Digitalisasi seharusnya tidak membuat radio kehilangan jati diri. Sebaliknya, teknologi harus menjadi kendaraan agar suara radio menjangkau lebih banyak orang.
Hari ini mungkin orang berkata, “Radio sudah kalah dengan internet.”
Tetapi mungkin pertanyaannya perlu dibalik:
Mengapa radio harus kalah, kalau radio juga bisa berada di internet?
Radio tidak harus melawan media sosial. Radio tidak harus memusuhi podcast. Radio tidak harus bersaing dengan platform streaming dengan cara yang sama.
Radio harus berkolaborasi dengan semuanya.
Sebab pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan apakah sebuah media tetap hidup adalah kemampuannya memberikan sesuatu yang dibutuhkan masyarakat.
Selama manusia masih membutuhkan informasi yang terpercaya, hiburan, teman dalam perjalanan, ruang dialog, dan suara yang terasa dekat, radio masih memiliki alasan untuk tetap ada.
Radio masih ada.
Dan selama radio mampu beradaptasi tanpa kehilangan jiwa jurnalistik dan kedekatannya dengan masyarakat, radio bukan hanya sekadar bertahan namun Radio mampu berubah, karena yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah informasi dan tidak hanya sekedar nama disebut oleh penyiar saat akan memutar lagu kesayangannya, seperti Radio zaman kawan awak tu.
Selamat Hari Radio.... Radio Masih Ada: Bertahan, Beradaptasi, dan Tetap Dibutuhkan di Era Digital
Komentar Anda :