BHARABAS MEDIA, PEKANBARU -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia masih terjaga di tengah meningkatnya risiko global dan perlambatan ekonomi sejumlah negara.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan risiko geopolitik masih menjadi salah satu tantangan utama perekonomian global.
Konflik di Timur Tengah, termasuk perang di Iran dan belum dibukanya kembali Selat Hormuz, turut meningkatkan tekanan terhadap jalur distribusi energi dunia.
“Gangguan jalur distribusi energi tersebut menyebabkan volatilitas harga minyak dan komoditas. Sehingga tekanan inflasi global tetap tinggi,” kata Friderica dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, Senin (7/9/2026).
Tekanan inflasi global juga diperburuk oleh fenomena El Nino yang berlangsung berkepanjangan. Menurut Friderica, kondisi tersebut memicu kekeringan dan kebakaran hutan di berbagai kawasan.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, ekonomi global menunjukkan kecenderungan melambat. Mayoritas negara mencatat pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah pada triwulan II 2026.
Amerika Serikat, misalnya, mencatat pertumbuhan ekonomi di bawah ekspektasi. Kondisi tersebut dibarengi dengan moderasi pasar tenaga kerja dan inflasi yang masih tinggi meski mulai menunjukkan tren penurunan.
Perlambatan juga terjadi di Tiongkok. Pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu pada triwulan II 2026 melambat menjadi 4,3 persen secara tahunan. Pelemahan terjadi baik pada sektor produksi maupun permintaan domestik.
“Dengan data terkini mengindikasikan pelemahan yang masih berlanjut. Baik pada sektor produksi maupun permintaan domestik,” katanya.
Risiko global turut tercermin di pasar keuangan melalui kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah negara-negara maju. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi kebutuhan pendanaan belanja modal perusahaan hyperscalers di tengah kebijakan moneter yang masih restriktif.
Meski menghadapi tekanan eksternal, ekonomi Indonesia dinilai masih memiliki daya tahan. Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 5,29 persen secara tahunan.
“Didukung investasi dan belanja pemerintah. Konsumsi rumah tangga yang kuat juga masih menjadi penopang utama pertumbuhan,” ujar Friderica.
Namun, sejumlah indikator domestik masih perlu menjadi perhatian. Inflasi Indonesia pada Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan.
Selain itu, aktivitas manufaktur nasional masih berada di zona kontraksi. Hal tersebut tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) yang berada pada level 49,8.
Kendati terdapat sejumlah tekanan, OJK menyatakan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga. Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi dan gejolak pasar keuangan global. (rls/pri)
Komentar Anda :