BI Optimis Ekonomi Riau Tetap Tumbuh di Kisaran 4,4 Hingga 5,2 Persen di Tahun 2026
BHARABAS MEDIA, PEKANBARU — Meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan, Bank Indonesia perwakilan Riau tetap optimis Ekonomi Riau tumbuh pada tahun 2026. Pertumbuhan itu diperkirakan di kisaran 4,4 hingga 5,2%, sementara inflasi tetap terjaga pada 2,5% ± 1%.
Hal ini terungkap dalam Pertemuan Tahun Bank Indonesia (PTBI) yang digelar di Kantor Perwakilan BI Provinsi Riau, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, Jumat malam, (28/11/25).
Dalam kesempatan itu, Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Riau, Sudiro Pambudi, menjelaskan bahwa BI Riau mencatat perekonomian Riau pada triwulan III tahun 2025 tumbuh 4,98% secara tahunan (yoy). Dengan capaian tersebut, Riau tetap menjadi provinsi dengan PDRB atas dasar harga berlaku terbesar ke-6 nasional dan terbesar ke-2 di luar Pulau Jawa dengan kontribusi mencapai 5,14%.
“Pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 terutama ditopang oleh meningkatnya ekspor luar negeri. Kenaikan daya saing komoditas sawit dibanding minyak nabati lainnya mendorong permintaan global yang ikut menghidupkan aktivitas ekspor daerah,” kata Sudiro.
Adapun kondisi ekonomi Riau yang solid turut menarik minat para investor. Hingga triwulan III 2025, nilai investasi yang masuk ke Riau mencapai Rp55,89 triliun, atau 58,83% dari target tahunan. Kondisi ini, kata Sudiro, sekaligus menyerap lebih dari 40 ribu tenaga kerja.
Capaian investasi tersebut menempatkan Riau sebagai provinsi dengan realisasi investasi terbesar ke-9 secara nasional. Sudiro menilai tren ini menunjukkan meningkatnya daya tarik ekonomi daerah bagi investor domestik dan asing.
“Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian dan industri pengolahan menunjukkan kinerja paling kuat. Sepanjang 2025, sektor pertanian tumbuh 5,39% yoy, sementara industri pengolahan meningkat 7,17% yoy,” tambahnya.
Selain itu, kondisi cuaca yang mendukung ikut mendorong peningkatan produksi kelapa sawit di Riau. Peningkatan produksi ini memastikan pasokan CPO untuk program biodiesel B40 — sekaligus menjaga volume ekspor Riau tetap stabil di pasar global.
Hal ini diperkuat berkat diversifikasi produk turunan sawit melalui packaging yang mampu mendorong pertumbuhan daya saing ekspor Riau. “Upaya hilirisasi sawit semakin berdampak positif bagi perekonomian daerah,” tambahnya.
Sementara itu, perkembangan inflasi Riau per Oktober 2025 tercatat 4,95% yoy, atau lebih tinggi dari posisi Desember 2024 yang sebesar 1,25%. Kendati demikian, BI optimistis bahwa inflasi akhir tahun 2025 berada dalam target 2,5% ± 1%.
Optimisme tersebut sejalan dengan berbagai langkah yang dilakukan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Salah satunya melalui program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang fokus memperkuat produksi pangan dan menjaga stabilitas pasokan.
Di lain sisi, BI juga terus mendorong inklusi ekonomi dan keuangan syariah. Hingga 2025, terdapat 43 UMKM binaan dan klaster serta lebih dari 100 UMKM mitra yang menerima dukungan pembinaan, inovasi, dan digitalisasi usaha.
“Program penguatan UMKM difokuskan pada lima kelompok strategis, yaitu pangan, ekspor, pariwisata, ekonomi kreatif, dan wirausaha. Klaster UMKM telah berkembang di enam kabupaten/kota, termasuk Pekanbaru, Kampar, Siak, dan Kepulauan Meranti,” tambah Sudiro.
Soal transformasi digital juga menjadi prioritas BI Riau, yang mana hingga Oktober 2025, transaksi digital melalui QRIS tumbuh 106,92% yoy, dengan total 76,22 juta transaksi, 1,2 juta pengguna, dan lebih dari 888 ribu merchant.
Penguatan digitalisasi pemerintah daerah melalui TP2DD juga menunjukkan hasil signifikan. Seluruh pemerintah daerah di Riau masuk kategori Pemerintah Daerah Digital berdasarkan indeks ETPD semester I 2025.
“Ke depan, kami mengidentifikasi tiga tantangan utama ekonomi Riau, yaitu realokasi anggaran pemerintah, tantangan pasokan CPO untuk mendukung kebijakan B50, serta ketidakpastian ekonomi global yang dapat memengaruhi ekspor dan investasi,” ujarnya.
Sudiro menegaskan bahwa meski menghadapi tantangan global dan domestik, ekonomi Riau pada 2026 tetap kuat. BI memproyeksikan pertumbuhan berada pada kisaran 4,4 hingga 5,2%, sementara inflasi tetap terjaga pada 2,5% ± 1%. (rls/pri)
Komentar Anda :