Mimpi Besar Di Tengah Isu Ancaman Pemanasan Global, Kopi Liberika Meranti Berpotensi Jadi Pemain Besar Pasar Kopi Dunia Kamis, 28/05/2026 | 13:28
BHARABAS MEDIA, PEKANBARU – Malam belum begitu larut. Langit masih menyisakan semburat biru gelap, sementara lampu-lampu jalan mulai memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang lengang. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah dan sisa hujan sore tadi. Dari kejauhan, suara kendaraan terdengar samar bercampur dengan tawa kecil orang-orang yang belum ingin pulang. Warung kopi di sudut jalan masih hidup, ditemani kepulan asap dan obrolan yang mengalir santai. Kota Dumai seolah belum benar-benar tidur, hanya melambat menikmati malam yang perlahan datang.
Disebuah Meja Panjang bewarna coklat yang ditutupi taplak meja bewarna putih, terlihat tersusun 12 mangkok kecil seukuran genggaman tangan orang dewasa yang berisikan serbuk-serbuk hitam yang mengeluarkan aroma khas,sepintas kita tau itu adalah aroma kopi. Namun bila kita mau membungkukkan badan dan mendekatkan indra penciuman kita kebibir mangkok kecil tersebut dan menghirup baunya, maka akan terasa perbedaan bau dari masing masing mangkok tersebut, karena memang mangkok tersebut berisi butiran halus dari berbagai jenis kopi yang berasal dari berbagai daerah asal tumbuhnya.
“Om” seorang pemuda 30 tahunan menyapa ku halus, membuat aku berpaling muka sejenak diantara niatku yang ingin mencoba untuk menghirup perbedaan aroma kopi yang ada didalam mangkok itu. Aku mengenali pemuda yang menegurku itu bernama Randi, ia Anak
temanku dan tinggal satu Rt dengan ku, aku memang mengenal Randi dan abangnya Reza sebagai pengusaha Coffee terkenal dikotaku kota Pekanbaru. Namun aku tidak menyangka akan pertemuan kami di kota Dumai, membuat aku lama tercenung dan berpikir apa gerangan
yang membuat Aku dan Anak anak temanku ini ada dalam satu forum karena kami memang berbeda profesi.
“Yang ini jenis kopi Liberika juga dan tumbuh didaerah Sumatra Selatan om” kata Randi memutus lamunanku dan membimbing ku untuk mulai mencium bau serbuk kopi yang sudah digiling menjadi serbuk halus (grinding) setelah disangrai sebelumnya.
“Rasakan perbedaanya dengan yang ini, kopi Liberika Meranti, Kopi asal negeri kita sendiri, jauh berbeda baunya apalagi nanti setelah diseduh” kata Randi dengan semangat seolah ingin meyakinkan ku bahwa Kopi Liberika Meranti ini memiliki prospek yang cerah dikemudian hari, tak segelap dan pahitnya kehidupan anak negeri ini.
Ya…banyak kalangan menilai, saat ini di tengah ancaman pemanasan global yang mulai mengganggu produksi kopi dunia, Kopi Liberika Meranti dari Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, justru dinilai memiliki peluang, Berbeda dengan kopi arabika yang tumbuh di dataran tinggi dan sensitif terhadap perubahan suhu, kopi liberika justru mampu bertahan di dataran rendah dan lahan gambut. Kondisi
tersebut membuat Liberika Meranti mulai dilirik sebagai kopi masa depan di tengah perubahan iklim global.
Secara sejarah, kopi liberika pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke-19 saat pemerintah kolonial Belanda mencari pengganti arabika yang terserang hama karat daun. Kopi ini berasal dari Liberia, Afrika Barat, lalu dikembangkan di sejumlah wilayah Nusantara termasuk Sumatera.
Khusus di Kepulauan Meranti, masyarakat meyakini kopi liberika dibawa dari Malaysia sekitar tahun 1942 oleh warga yang pulang dari Batu Pahat, Johor. Bibit tersebut kemudian ditanam di lahan gambut Pulau Rangsang dan berkembang hingga menjadi komoditas andalan masyarakat setempat.
Founder ErberCoffee, Abdurrahman Farhumi mengatakan, Liberika Meranti memiliki potensi besar menjadi pemain penting industri kopi dunia karena keunikannya yang sulit ditiru daerah lain.
“Ketika banyak negara mulai khawatir dengan dampak climate change terhadap kopi arabika, Liberika Meranti justru punya daya tahan tinggi. Ini bisa menjadi masa depan baru kopi dunia,” ujar Abdurrahman ketika aku berbincang santai dengannya disalah satu hotel
berbintang dikota Dumai, belum lama ini.
Menurut Founder ErberCoffee ini, kopi liberika memiliki karakter aroma khas nangka, cokelat, serta cita rasa earthy dari lahan gambut yang menjadi identitas kuat kopi tersebut.
“Pasar specialty coffee dunia sekarang mencari kopi dengan cerita dan identitas. Liberika Meranti punya nilai budaya, lingkungan, dan sejarah yang sangat kuat,” katanya.
Sementara itu seorang petani kopi Liberika di Desa Kedabu Rapat, Kecamatan Rangsang Pesisir, Meranti bernama Nyoto, mengatakan masyarakat di Pulau Rangsang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari perkebunan kopi liberika.
“Kopi ini sudah menjadi bagian hidup masyarakat di sana. Dulu dijual biasa saja, sekarang mulai dikenal luas,” kata pria paruh baya yang sudah melanglang buana ke beberapa negara untuk mengenalkan Kopi Liberika Meranti ini.
Menurut Nyoto, permintaan kopi liberika terus meningkat terutama dari Malaysia yang sejak lama menjadi pasar utama kopi Meranti. Bahkan sejak tahun 1980-an, sebagian besar hasil panen petani sudah dipasarkan ke negeri jiran tersebut.
Disisi lain Pemilik Sehasta Coffee Syahreiza Eria, menilai kekuatan terbesar Liberika Meranti bukan hanya rasa, tetapi juga branding dan cerita yang menyertainya.
“Dunia sekarang tidak hanya membeli kopi, tapi juga membeli narasi. Liberika Meranti punya cerita tentang gambut, pesisir Melayu, dan ketahanan terhadap perubahan iklim,” kata Runner Up Indonesia Coffee Roasting Champion 2023 dan 2024 ini.
Menurutnya, kopi liberika kini mulai masuk ke jaringan kopitiam di Malaysia hingga Filipina. Budaya kopitiam yang berkembang di Asia Tenggara menjadi peluang besar bagi Liberika Meranti untuk berkembang lebih luas.
“Karakter kopi liberika cocok dengan selera kopi Asia Tenggara. Di Malaysia maupun Filipina, budaya minum kopi di kopitiam masih sangat kuat,” ujarnya.
Reza mengatakan penguatan kemasan, promosi digital, hingga storytelling menjadi langkah penting agar Liberika Meranti tidak hanya dikenal sebagai kopi lokal, tetapi sebagai identitas kopi hijau Indonesia di pasar global.
Sementara itu, penyeduh kopi atau barista dari Sehasta Caffee Randi mengatakan banyak penikmat kopi merasa penasaran ketika pertama kali mencoba Liberika Meranti karena aromanya berbeda dibanding arabika maupun robusta.
“Begitu dicoba, orang langsung ingat aromanya. Ada rasa unik yang tidak dimiliki kopi lain,” ujarnya.
Menurut Randi, tren specialty coffee saat ini membuka peluang besar bagi kopi-kopi dengan karakter khas untuk masuk pasar premium dunia.
Kini, dari lahan gambut pesisir Riau, secangkir Kopi Liberika Meranti perlahan mulai membawa nama Indonesia ke pasar internasional. Di tengah ancaman pemanasan global, kopi khas Meranti justru hadir sebagai simbol ketahanan, identitas budaya, dan harapan baru industri kopi dunia.
Namun ini semua tidak akan berarti apa apa tanpa dukungan kita semua, Kolaborasi Petani Kopi Liberika yang diwakili pak Nyoto, semangat anak muda seperti Reza, Randi dan Abdurrahman Farhumi, yang terus mengenalkan Kopi Liberika dengan cara mereka,
ditambah dengan dukungan dari berbagai Instansi Pemerintah termasuk Bank Indonesia dengan berbagai program pemberdayaan kemasyarakatannya harus tetap dijaga agar mimpi Kopi Liberika Meranti Berpotensi Jadi Pemain Besar Pasar Kopi Dunia dapat terwujudkan.
Mulai hari ini bila anda ingin minum kopi di kedai kopi langganan anda, pesanlah selalu kopi dengan bahan dasar Kopi Liberika Meranti karena peran kita masyarakat juga sangat menentukan dalam mewujudkan mimpi besar ini. (pri)