Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memerintahkan industri farmasi di Indonesia untuk menghentikan produksi " />
 
 
BPOM Tarik Obat Tukak Lambung yang Diduga Jadi Pemicu Kanker
Senin, 07-10-2019 - 22:55:37 WIB
Ilustrasi.
TERKAIT:
 
  • BPOM Tarik Obat Tukak Lambung yang Diduga Jadi Pemicu Kanker
  •  

    JAKARTA -- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memerintahkan industri farmasi di Indonesia untuk menghentikan produksi obat mengandung Ranitidin yang tercemar N-Nitrosodimethylamine (NDMA). Obat untuk gejala penyakit tukak lambung dan tukak usus itu juga diminta ditarik dari peredarannya.

    Dilansir dari CNNIndonesia.com, NDMA merupakan zat yang sebenarnya tidak berbahaya jika dikonsumsi sesuai ambang batas. Namun BPOM menemukan pencemaran di atas ambang batas yang menyebabkan NDMA bersifat karsinogenik atau memicu kanker.

    "Berdasarkan nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan, Badan POM memerintahkan kepada Industri Farmasi pemegang izin edar produk tersebut untuk melakukan penghentian produksi dan distribusi serta melakukan penarikan kembali (recall) seluruh bets produk dari peredaran," tulis keterangan BPOM dalam situs resminya, Jumat (4/10)

    BPOM mengacu pada studi global yang memutuskan ambang batas cemaran NDMA sejumlah 96 ng per hari. Hal ini didapat dari penemuan US Food and Drug Administration (FDA) serta European Medicine Agency (EMA) terhadap zat tersebut.

    Pada tahun 2018, EMA melakukan penelitian dan menemukan NDMA serta senyawa lainnya yang disebut nitrosamin ditemukan dalam sejumlah obat tekanan darah bernama sartan. Berdasarkan keterangan di situs resmi EMA, tinjauan Uni Eropa terhadap obat tersebut pun membuat distribusi obat itu ditarik kembali.

    "NDMA diklasifikasikan sebagai zat karsinogenik (menyebabkan kanker) pada manusia berdasarkan studi-studi pada hewan," tulis EMA.

    Selain itu, US FDA juga telah menyelidiki zat serupa sejak tahun lalu. Zat itu ditemukan dalam obat tekanan darah dan gagal jantung yakni Angiotensin II Receptor Blockers (ARBs).

    "FDA telah mempelajari bahwa beberapa jenis ranitidin, termasuk produk yang dikenal dengan merek Zantac, mengandung NDMA dalam level rendah," tulis FDA.

    "NDMA bisa dikelompokkan sebagai zat karsinogenik pada manusia," imbuh FDA.

    BPOM sendiri saat ini tengah melakukan pengambilan dan pengujian beberapa sampel produk ranitidin. Hasil uji sebagian sampel mengandung cemaran NDMA dengan jumlah yang melebihi batas yang diperbolehkan.

    "Pengujian dan kajian risiko akan dilanjutkan terhadap seluruh produk yang mengandung ranitidin".

    Berdasarkan nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan inilaj, Badan POM memerintahkan kepada Industri Farmasi pemegang izin edar produk tersebut untuk menghentikan produksi dan distribusi serta melakukan penarikan kembali  seluruh bets produk dari peredaran.

    Untuk diketahui, Ranitidin adalah obat yang biasa digunakan untuk gejala penyakit tukak lambung dan tukak usus. Persetujuan terhadap produksi dan distribusi ranitidin telah diberikan BPOM sejak 1989 dengan bentuk tablet, sirup dan injeksi.

    Ranitidin yang diperintahkan ditarik karena terdeteksi NDMA:

    1. Ranitidine Cairan Injeksi 25 mg/mL pemegang izin edar PT Phapros Tbk

    Penarikan Sukarela Produk Ranitidin yang terdeteksi NDMA:

    1. Zantac Cairan Injeksi 25 mg/mL, pemegang izin edar PT Glaxo Wellcome Indonesia
    2. Rinadin Sirup 75 mg/5mL, pemegang izin edar PT Global Multi Pharmalab
    3. Indoran Cairan Injeksi 25 mg/mL, pemegang izin edar PT Indofarma. (CNI) 



     
    Berita Lainnya :
  • BPOM Tarik Obat Tukak Lambung yang Diduga Jadi Pemicu Kanker
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Indra Sjafri Salut Shin Tae Yong Rela Potong Gaji 50 Persen
    02 Akomodasi Protokol Covid-19, Anggaran Pilkada 2020 Ditambah
    03 Kemendagri Dorong Pemerintah Daerah Untuk Produktif Di Tengah Pandemi Covid-19
    04 Jelang Perwako Rampung, Pergerakan Masyarakat Ikuti Aturan Kementerian Teknis
    05 Sejumlah Gerai di MPP Pekanbaru Kembali Buka Layanan Tatap Muka
    06 Penghentian Pelayanan Perpajakan Melalui Tatap Muka DJP Riau Diperpanjang
    07 Kenali Beda Susu Sapi dan Susu Kambing
    08 Rins Disebut Bisa Akhiri Dominasi Marquez di MotoGP
    09 Isi Lengkap Fatwa MUI Salat Jumat Dua Gelombang Tidak Sah
    10 BMKG Keluarkan Peringatan Dini, Waspada Hujan Lebat Disertai Petir dan Angin Kencang
    11 Lima Pemain Barcelona Diklaim Positif Virus Corona
    12 Biro Haji Khusus Minta Kemenag Duduk Bareng Cari Solusi
    13 Posko Cek Poin Dilima Perbatasan Diperpanjang
    14 4 Hari tak Ada Kasus Positif Covid-19, Jubir: Perketat Protokol Kesehatan
    15 Hasil Swab 10 Warga Tenayan Raya Pekanbaru Negatif Corona
    16 Pemko Gelar Rapid Test Massal Gratis di 2 Tempat
    17 Cara Aman Jaga Diri dari Virus Corona Saat Kerja di Kantor
    18 Jadwal Lengkap Liga-liga Eropa Kembali Dimulai
    19 Ibadah Haji 2020 Ditiadakan
    20 Hujan Akan Mengguyur Wilayah Riau Pada Sore Hingga Dini Hari
    21 MU Resmi Perpanjang Kontrak Ighalo hingga 2021
    22 Ibu Kota Pindah, Penajam Paser Utara Kebanjiran Penduduk Baru
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    © Buletin Satu - News information About Riau